Tuesday, June 28, 2011

Matius 5:46

Seorang perempuan Kristen mempunyai 2 ekor anak ayam. Anak ayam itu sering mencari makan di halaman rumah tetangganya yang cepat naik darah. Suatu hari tetangganya menangkap kedua anak ayam itu dan mencekik lehernya sehingga mati. Lalu anak ayam itu delemparkannya kembali melalui pagar. Tentu saja perempuan itu berduka tetapi dia tida...k menjadi marah dan mencaci maki tetangganya. Sebaliknya ia mengambil anak ayam itu, mencabuti bulunya dan memasaknya menjadi roti ayam. Kemudian mengirimkan roti ayam tsb ke rumah tetangganya yg telah membunuh anak ayam itu. Perempuan itu meminta maaf karena tidak berhati-hati menjaga anak ayamnya.

Tetangganya tidak bisa berkata apa-apa. Roti ayam dan permintaan maaf itu membuatnya malu. Sebenarnya bukan maksud perempuan itu untuk membuat dia malu tetapi motivasinya membalas kejahatan dgn kebajikan adalah untuk memperlihatkan kasih Kristen yang nyata kepada tetangganya.

Ingat : Membalas kasih dengan kebencian adalah kejahatan.
Membalas kasih dengan kasih adalah manusiawi.
Membalas kebencian dengan kasih adalah ilahi.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? ( Matius 5:46)

Melihat kebahagiaan dari sisi lain

Di Burma, pernah hidup seorang gadis penari yang sangat cantik bernama Ma Hla Mee yang artinya: "Kecantikan yang sempurna". Ia menjadi puteri pujaan di negerinya bahkan kemudian menjadi kekasih pangeran Sanba. Tapi sayang, dia kemudian terserang kusta. Pada waktu itu dia hampir bunuh diri. Kemudian ia mengambil keputusan untuk pergi k...e rumah sakit kusta di Mandalay untuk menguburkan dirinya disana. Tetapi ia salah duga, seluruh penghuni rumah sakit Mandalay tampak sakit dan gembira, karena mereka beriman pada Kristus yang telah bangkit dan karena persaudaraan umat manusia yang abadi. Penyakit yang mereka derita sangat mengerikan, tapi mereka hidup penuh kerukunan dan rasa persaudaraan. Mereka percaya Tuhan tidak melupakan mereka dan kehidupan yang abadi sedang menanti mereka.
Ma Hla Mee bertekad untuk hidup disana. Ia mulai menolong para penderita lain dengan gembira dan itu dibuatnya bertahun-tahun. Ketika ia berusia 80 tahun matanya menjadi buta karena dirongrong penyakitnya. Namun kegembiraannya tidak pernah surut. Ia tidak cantik seperti dulu, tapi hatinya senantiasa berbunga oleh kebahagiaan. Ia tidak memikirkan dirinya dan penyakitnya. Kematian baginya bukan soal lagi. Ia sudah mengatasi penderitaan dan kematian. Imannya akan Kristus telah mengalahkan penderitaan dan kematian.

BIAR AKU MATI DEMI ANAKKU

Di suatu kerajaan, tinggallah seorang ibu tua bersama seorang anak tunggalnya. Suaminya telah lama meninggal dunia karena sakit. Sang ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anaknya , karena anak itu mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, dan banyak lagi kebiasaan buruk lainnya. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun ibu itu pun selalu berdoa kepada Tuhan," Tuhan, tolonglah sadarkan anakku yang kusayangi, supaya dia tak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin melihatnya bertobat sebelum aku mati."

Tapi bukannya bertobat, anak itu malah makin lama kian larut dengan perbuatan jahatnya. Begitu sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari, ia kembali mencuri di rumah seorang penduduk desa. Tapi kali ini ia tertangkap basah oleh seseorang yang kebetulan lewat. Maka dibawalah si anak ke hadapan raja untuk diadili sesuai kebiasaan di kerajaan tersebut. Oleh raja, anak itu dijatuhi hukuman pancung. Demikianlah hukuman tersebut disebarkan ke seluruh penjuru kerajaan.

Hukuman itu akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat kerajaan itu tepat pada saat lonceng gereja berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu pun terdengar oleh ibunya. Dia menangis meratapi anak yang sangat dikasihinya itu. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, ampunilah anak Hamba. Biarlah Hambamu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya."

Dengan tertatih-tatih dia menghadap raja untuk memohon agar anaknya dibebaskan, tapi keputusan raja sudah tak dapat diubah lagi, si anak harus menjalani hukuman yang sudah ditetapkan itu. Dengan hati hancur ibu itu kembali ke rumahnya. Dia terus berdoa agar anaknya diampuni. Karena kelelahan dia tertidur dan mimpi bertemu Tuhan.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, banyak orang sudah berkumpul untuk menyaksikan penghukuman itu. Sang algojo pun sudah siap dengan pedangnya. Sedangkan anak itu sudah pasrah menanti maut datang menjemputnya. Terbayang olehnya wajah Sang ibu yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali segala perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya pun tiba. Tapi sampai waktu yang telah ditentukan, lonceng gereja belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya seseorang mendatangi petugas yang bertugas membunyikan lonceng di gereja. Dia juga mengaku heran, karena meski sudah dari tadi menarik lonceng, tapi tak ada bunyi dentangnya.

Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah segar. Darah tersebut datangnya dari atas, dari tempat di mana lonceng tersebut diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menanti saat beberapa orang naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemukan tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng sehingga lonceng tidak bisa berbunyi, sebagai gantinya kepalanyalah yang membentur dinding lonceng. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tertunduk meneteskan air mata. Sementara si anak itu menangis meraung-raung sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Ternyata malam sebelumnya si ibu yang sudah tua itu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikatkan dirinya di lonceng tersebut sambil memeluk bandul besi di dalam lonceng, untuk menghindarkan hukuman pancung untuk anaknya.

Jangan menyerah, Tuhan besertamu

Di bawah ini ada sebuah daftar kegagalan dari orang yang semasa hidupnya mengalami banyak tantangan dan badai.

1831 - ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya.

1832 - ia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal
......
1833 - ia kembali menderita kebangkrutan

1835 - istrinya meninggal dunia

1836 - ia menderita tekanan mental sedemikian rupa, sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa

1837 - ia menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato

1840 - ia gagal dalam pemilihan anggota Senat Amerika Serikat

1842 - ia menderita kekalahan untuk duduk di dalam konggres Amerika

1848 - ia kalah lagi di konggres

1855 - ia gagal lagi di senat

1856 - ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden

1858 - ia kalah lagi di senat

1860 - ia akhirnya menjadi presiden Amerika Serikat


Siapakah dia? Namanya ialah Abraham Lincoln

Kalau orang lain yang mengalami demikian banyak kegagalan mungkin ia sudah mundur secara teratur. Tetapi Lincoln maju terus, kata mundur sama sekali tidak ada di otaknya. Akibatnya ia kemudian mencapai suatu sukses yang luar biasa.

========================================
I Korintus 15:58 menyatakan dengan tegas "Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

Tuesday, June 21, 2011

Herman dan Bunda Maria

Ada seorang anak menjepit tas sekolahnya dan berlari cepat-cepat ke sekolahnya. Ia berlari tanpa sepatu di pagi yang dingin. Pagi itu ia bangun kesiangan, sehingga ia takut terlambat. Sambil berlari ia menimang-nimang sebuah apel yang sangat ranum, pemberian ayahnya buat bekal sekolah. Akan dimakannya waktu istirahat nanti. Namun seju...rus kemudian ia mengubah pikirannya. Apel itu akan diberinya untuk seorang anak yang sangat disayanginya.


Tiba-tiba ia memperlambat larinya. Ia menyinggahi gereja parokinya. Ia pergi ke arca Bunda Maria dan Yesus. Ia mengulurkan apel itu kepada Yesus. Tetapi ia tidak cukup tinggi untuk menggapai tangan Yesus. Rasanya ia mau memanjat, tapi tidak bisa.Dan sungguh ajaib tiba-tiba patung Bunda Maria tersenyum lalu membungkuk menerima pemberian dari anak itu. Anak itu tertawa ria. Sesudah berpamitan, berlarilah ia ke sekolah karena takut terlambat.

Anak itu bernama Herman. Ia menganggap bunda Maria dan Yesus teman akrabnya. Setiap kali ia singgah di gereja membisikan isi hatinya dan menceritakan pengalamannya. Pernah ia datang tanpa bersepatu, sedangkan pagi itu sangat dingin. Bunda Maria menunjuk sebuah ubin yang lepas. Herman membalik ubin itu mendapatkan cukup uang untuk membeli sepatu. Pemberian dari Yesus untuk dia.

Kisah di atas adalah sebagian dari riwayat hidup Santo Herman Yosef....

Madona Buta

Di salah satu desa di Amerika latin terdapat arca Madona (Ibu Maria) yang sudah tua sekali. Arca itu sudah berlumut, terlebih pada mata Madona lumutnya cukup tebal, sehingga memberi kesan mata Madona buta.

Pada suatu saat seorang Pastor yang berkunjung ke desa itu mau membersihkan arca itu. Namun warga di desa itu memprotes. Mereka mengatakan pada pastor itu boleh mebersihkan wajah dan telinga Madona, tetapi jangan mata Madona. Alasannya ? Mereka katakan : "Biarlah Madona tetap mendengar doa-doa kami, tetapi janganlah kiranya Madona melihat perbuatan-perbuatan dosa kami !"

Saringan tiga kali

Di jaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?"
"Tunggu sebentar," jawab Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil.

Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut. "Betul," lanjut Socrates.

"Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.

Saringan yang pertama adalah KEBENARAN.
Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?"

"Tidak," kata pria tersebut,"sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda". "Baiklah,"

kata Socrates. " Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak."

Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu :KEBAIKAN
Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk". "Jadi," lanjut Socrates, "anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya,yaitu: KEGUNAAN
Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?" "Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut. "Kalau begitu," simpul Socrates," jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya...belum tentu benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?"

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata- kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali.

Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali