Sunday, March 21, 2010

Nilaimu Tidak pernah berkurang !


Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00.- ia bertanya kepadahadirin,

"Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat.

"Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini."

Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

"Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

"Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

"Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting.

Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.-

Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.

Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan.

Saturday, March 20, 2010

Basilika Santa Maria Mayor


Basilika Santa Maria Mayor
Roma, Italia - 352 Masehi

Meskipun ini adalah suatu peristiwa penampakan yang sudah kuno sekali, bukti terkuat dari keotentikannya adalah kehadiran gereja Maria yang terbesar di dunia, yaitu Santa Maria Mayor, salah satu gereja favorit para Paus sejak berabad-abad lalu.

Pada tahun 352 Masehi, sepasang suami-istri warga Roma yang tak memiliki anak, Yohanes dan isterinya, memutuskan untuk menghibahkan harta kekayaan mereka kepada Santa Perawan Maria. Mereka seringkali berdoa kepada Bunda Maria untuk minta petunjuk bagaimana harta kekayaan mereka bisa digunakan demi Bunda Maria. Perawan Maria suatu ketika muncul di hadapan mereka pada malam hari tanggal 4 Agustus dan mengatakan bahwa dia menginginkan sebuah basilika dibangun diatas Bukit Esquiline, yaitu salah satu dari tujuh bukit di kota Roma. Bunda Maria akan menandai areal tanah tempat gereja itu mesti dibangun, dengan tumpukan salju - yang mana ini merupakan suatu mukjijat karena bulan Agustus adalah bulan terpanas di kota Roma. Sri Paus pada saat itu, Paus Liberius, juga menerima pesan yang sama dari Sang Perawan.

Pada pagi hari tanggal 5 Agustus, sebagian wilayah Bukit Esquiline yang luas ditutupi oleh lapisan salju. Baik Yohanes bersama istrinya, maupun Sri Paus Liberius datang ke bukit tersebut. Setelah mereka mengukur luas wilayah yang ditutupi oleh salju, yang akan menjadi luas area basilika, salju tersebut menghilang. Sri Paus segera memerintahkan dibangunnya basilika, dan Santa Maria Mayor selesai dibangun pada tahun 360 Masehi.

Penampakan Maria kepada St.Yakobus - Rasul


Santa Maria dari Pilar, Saragossa - Spanyol
Penampakan Maria kepada St.Yakobus - Rasul

Penampakan Perawan Maria yang pertama kali disaksikan oleh St.Yakobus Besar (St.Yakobus bin Zebedeus, - saudara St.Yohanes), yang disebutkan sebagai Rasul favorit Bunda Maria. Penampakan itu terjadi di Saragossa, Spanyol, di tahun 40 Masehi ketika St.Yakobus sedang berkhotbah di tepi sungai Ebro. Karena Perawan Maria masih hidup pada saat itu, penampakan ini sebetulnya merupakan suatu kejadian bi-lokasi. Banyak orang kudus Gereja memiliki kemampuan bi-lokasi, dimana mereka sedang berdoa di suatu tempat dan secara bersamaan hadir secara fisik di tempat lainnya. Contohnya: St.Antonius dari Padua, Beato Padre Pio.

St.Yakobus, Rasul yang disebutkan telah berangkat ke Spanyol tahun 35 Masehi, merasa usahanya kurang membuahkan hasil yang memuaskan ketika tiba-tiba Perawan Maria muncul di hadapannya, dibawa oleh sejumlah malaikat dari Yerusalem. Bunda Maria memberikan kepadanya sebuah patung dirinya bersama dengan Kanak-kanak Yesus dan pilar jasper setinggi 1.8 meter dan berkata, "Tempat ini akan menjadi rumahku, dan patung dan pilar ini akan menjadi titelnya (Santa Maria dari Pilar) dan altar dari kuil yang akan engkau bangun." Pilar itu nantinya ditaruh di dalam gereja dan masih ada hingga sekarang yang menjadi lambang iman yang tekun dari rakyat disana.

St.Yakobus lalu membangun sebuah kapel, yang merupakan gereja pertama yang dibangun untuk menghormati Maria. Meskipun kapel ini nantinya dihancurkan, termasuk juga beberapa yang dibangun sesudahnya, namun secara mukjijat patung dan pillar Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus masih terpelihara hingga sekarang setelah lebih dari 1900 tahun [!] di kapel kudus di dalam basilika yang didedikasikan kepada Perawan dari Pilar. Sejak dari permulaan sejumlah penyembuhan dan mukjijat lainnya telah diperoleh lewat Perawan dari Pilar oleh mereka yang datang kesana untuk mencari pertolongannya.

Dalam penampakannya kepada St.Yakobus, disebutkan bahwa Sang Perawan juga mengatakan kepada St.Yakobus bahwa Tuhan Yesus menginginkan dia kembali ke Yerusalem untuk menjadi salah satu martir yang pertama. St.Yakobus menjadi martir di Yerusalem pada tahun 44 Masehi - suatu pemenuhan dari nubuat Yesus dalam Injil Matius 20:20-23, dimana Yesus mengatakan bahwa Yakobus akan "meminum dari cawan-Nya."

Pesta rakyat Spanyol, "El Pilar", dirayakan setiap tanggal 12 Oktober. Pada tanggal 12 Oktober 1492, Christoper Columbus berlayar dengan kapal Spanyol, Santa Maria, dan tiba di benua baru, Amerika.

Kisah penampakan Bunda Maria di Dong Lu, Cina


Santa Maria dari Adven Baru
Kisah penampakan Bunda Maria di Dong Lu, Cina

Selama berabad-abad, rakyat Cina telah mengalami berbagai penderitaan dan kerusuhan politik. Berjuta-juta orang menjadi korban peperangan dan kelaparan. Para misionaris membawa iman Kristen ke Cina, tetapi hanya mendapat kesuksesan yang terbatas, kecuali jika kemuliaan Santa Perawan Maria Bunda Allah juga ditinggikan. Umumnya rakyat Cina tidak dapat mengerti mengapa Kanak-kanak Yesus bisa dimuliakan sebagai Tuhan, kecuali bunda-Nya juga turut dianggap suci. Oleh karena itu devosi kepada Bunda Maria tumbuh subur di tempat-tempat pemukiman yang berjauhan dimana iman Kristen mulai tumbuh berakar di Cina. Kebanyakan orang di Cina apapun kepercayaannya, pernah mendengar tentang Santa Perawan maria.

Oleh karena kepercayaan Kong Hu Cu (Confusianisme) dan penghormatan yang besar kepada para leluhur yang merupakan ciri khas kebudayaan rakyat Cina, sudah logis kalau Bunda Suci dari Yesus Kristus Juru Selamat dunia turut pula menjadi obyek kasih dan devosi di Cina. Maka demikianlah adanya.

Para romo-romo Vinsensian telah mendirikan suatu misi di Dong Lu, wilayah termiskin di dekat Peiping. Tempat ini dikenal sebagai tempat para pengemis. Pada tahun 1900, selama pemberontakan Boxer yang brutal, 10.000 gerombolan pasukan menyerang pedesaan Dong Lu. Warga Kristen yang berjumlah 700 orang sama sekali bukan tandingan dan tidak ada harapan untuk selamat menghadapi pasukan yang bersenjata tersebut. Mereka berkumpul bersama dan berdoa dengan sepenuh hati.

Sekonyong-konyong, para anggota gerombolan pengganas tersebut mulai melontarkan senjata-senjata mereka ke angkasa sembari meneriakan kata-kata makian dan kemarahan. Tiba-tiba saja, seluruh pasukan yang berjumlah sekitar 10.000 orang tersebut berbalik arah dan melarikan diri dari wilayah perkampungan secepat kilat seperti layaknya orang yang terancam bahaya maut. Menurut cerita, warga kampung menyaksikan seorang wanita yang sangat cantik yang dikelilingi oleh cahaya mistis muncul di atas langit. Senjata para pengganas tidak mampu melukai dirinya, kecantikannya, maupun pancaran kedamaiannya. Tiba-tiba, seorang satria berkuda muncul di horizon dengan kuasa yang menggentarkan hati para pengganas. Figur berkuda yang perkasa tersebut juga diselubungi oleh cahaya yang berkilau gemilang, begitu cemerlang sehingga 10.000 anggota pasukan pengganas serta merta melarikan diri ketakutan dan tidak kembali lagi. Warga setempat tidak ragu-ragu mengatakan bahwa Santa Perawan Maria yang Puteranya adalah Allah sejati, telah datang untuk melindungi mereka. Panglimanya yang terpercaya, Santo Mikael Malaikat Agung, telah membuat musur kocar-kacir ketakutan.

Sebuah gereja dibangun di atas tempat tersebut dan sebuah lukisan Bunda Maria, yang berpakaian seperti layaknya seorang kaisarina, ibusuri, dengan Kanak-kanak Yesus di dekat kakinya, ditaruh di atas altar. Gambaran ini telah menjadi tradisi Cina tentang realitas dan kehadiran Santa Perawan Maria dan Puteranya yang Ilahi, Yesus Kristus.

Meskipun gereja tersebut dihancurkan pada tahun 1951, lukisan itu tetap ada. Mungkin kelak akan datang suatu hari dimana lukisan itu akan ditaruh di dalam stasi ziarah yang menyambut kedatangan orang-orang dari seluruh penjuru dunia yang ingin menghormati berkat hidup kekeluargaan di dalam Allah.

Pada tanggal 2 Juni 1995 di awal musim panas, halaman depan koran The Washington Post menuliskan suatu sajian artikel tentang dua penampakan Bunda Maria yang muncul di situs peziarahan Dong Lu di hadapan sekitar 10.000 orang pada akhir bulan Mei 1995. Beribu-ribu umat Katolik telah berkumpul di Dong Lu untuk merayakan Misa Kudus yang dihadiri oleh para imam dan uskup dari Gereja Katolik bawah-tanah. Pada dua peristiwa yang terpisah, khalayak ramai tersebut menatap matahari secara langsung di tengah siang hari yang terik untuk melihat Santa Perawan Maria. "Khalayak ramai tersebut bertepuk tangan gemuruh pada suatu ketika," demikian laporan surat kabar.

10.000 orang yang melihat penampakan Maria tersebut sebetulnya melanggar perintah pemerintah Komunis dengan berkumpul di tempat umum dan merayakan Misa yang dianggap ilegal di tempat ziarah. Mereka menyanyikan lagu-lagu Gregorian yang mengumandang ke penjuru sawah-sawah di sekitarnya. Asap dedupaan membumbung tinggi. Wajah orang-orang cerah dan memancarkan kasih dan terimakasih sewaktu mereka mendaraskan doa Rosario. Penampakan Bunda Maria dianggap sebagai tanda dari kehadiran Allah yang terus-menerus dalam urusan-urusan umat manusia.

Santa Perawan Maria telah di lihat di berbagai tempat di Cina. Orang-orang di pedusunan terpencil yang sama sekali tidak mengenal dia sebagai Bunda Yesus Kristus, mengenalinya sebagai Perawan Bunda Allah. Mereka melaporkan Kanak-kanak Puteranya sebagai inkarnasi Allah dalam rupa manusia. Orang-orang dari segala latar belakang kepercayaan, bahkan yang tidak memiliki kepercayaan sekalipun, melihat mukjijat matahari seperti peristiwa penampakan Fatima, manik-manik Rosario yang berubah menjadi keemasan, dan orang-orang sakit yang disembuhkan, demikian makin banyak doa-doa dipanjatkan, dan kelompok-kelompok doa bertemu dan kehadiran Misa Kudus yang meningkat. Ziarah-ziarah besarpun diadakan, tidak hanya di Dong Lu, tetapi juga di sisi bukit di luar kota Shanghai.

Ada lebih banyak umat Kristen di Cina sekarang daripada ketika kaum komunis mengambil alih kekuasaan di tahun 1949, dengan garis politik menindas iman Kristen. Menurut perkiraan ada antara enam sampai dua belas juta umat Katolik di Cina yang setia kepada Roma. Menurut beberapa publikasi diperkirakan sepertiga dari uskup-uskup yang ditunjuk oleh pemerintah dalam Gereja Patriotik Cina secara rahasia setia kepada Roma. Negosiasi masih terus berlangsung antara Vatikan dan pemerintah Cina. Jumlah total umat Kristen di Cina tidak diketahui tepatnya.

Suatu grup ziarah membawa patung Santa Maria dari Fatima ke Peking di bulan Oktober 1994. Diantara ratusan peziarah adalah Gianna Talone Sullivan dan suaminya, Dr. Michael Sullivan, dari Emmitsburg, Maryland. Gianna adalah visionari penampakan Maria di Scotsdale, Arizona dan Emmitsburg, Maryland. Gianna melaporkan bahwa Santa Perawan Maria menampakan diri kepadanya di Gereja Maria Yang Tak Bernoda, yang merupakan tempat kedudukan resmi Uskup dari Gereja Katolik Patriotik Cina yang berasosiasi dengan Asosiasi Patriotik Cina.

Giannan Sullivan mengatakan bahwa Bunda Maria tampil berpakaian jubah warna putih dan memakai kerudung tembus pandang berwarna putih. Dia berdiri diatas gumpalan awan dan diselubungi oleh cahaya keunguan yang begitu kemilau sehingga Gianna nyaris tidak dapat melihatnya. Dia berkata: "Penampakan pertama terjadi pada tanggal 28 Oktober 1994 jam 2 siang. Bunda Allah juga menampakan diri kepada saya pada hari berikutnya di gereja yang sama. Dua penampakan ini adalah suatu fondasi yang menandai awal suatu era yang baru Gereja Yesus Kristus di Cina." Demikian Gianna berkata tentang penampakan yang dialaminya.

"Bunda Maria tampak berbeda seperti yang biasa saya lihat sebelum-sebelumnya. Figurnya serupa, akan tetapi dia dikelilingi oleh begitu banyak cahaya yang keungu-unguan. Dan juga para malaikat! Ada ratusan malaikat yang mengelilinginya! Ada ratusan wajah-wajah malaikat kecil yang manis! Merekapun juga memancarkan cahaya keunguan. Para malaikat itu seolah-olah menyelubungi Bunda Maria! Tetapi kedua tangan Bunda Maria, cahaya dari kedua tangannya begitu gemilang! Dia mengenakan mahkota emas. Saya menerima pesan ini dari Bunda Maria di Gereja Maria Yang Tak Bernoda di Peking:"

"Aku adalah Bunda Segala Rahmat. Aku adalah Bunda Segala Sukacita. Aku adalah Bunda Segala Bangsa. Hatiku Yang Tak Bernoda akan berkuasa, tetapi tidak seperti yang engkau pikirkan. Maksud kedatanganku ke sini adalah untuk mempersatukan gereja-gereja."

"Allah bersukacita atas kehadiranku disini. Ada banyak orang di Cina yang begitu dekat dengan Hatiku Yang Tak Bernoda. Mereka memiliki kasih yang besar kepada Allah. Mereka tidak terlupakan. Mereka juga adalah anak-anakku."

"Aku sangat menginginkan persatuan diantara gereja-gereja di Cina sekarang. Bekerjalah tanpa lelah bagi kemuliaan Allah! Semoga damai Yesus memenuhi hatimu dan pikiranmu dan jiwamu untuk selama-lamanya."

Sinar-sinar yang berpendar-pendar dari kedua tangan Bunda Maria begitu berkilau sehingga bahkan sinar matahari tampak suram bila dibandingkan dengannya. Ratusan malaikat yang mengelilinginya dipenuhi dengan kuasa dan kasih. Kehadiran mereka bersama-sama dengan Bunda Allah di Gereja Yang Dikandung Tanpa Noda di Peking adalah suatu tanda besar memerintahnya damai dan sukacita dan kasih. Sekarang inilah panggilannya. Kekuasaan Allah sudah dekat.

Pesan itu menjadi lebih jelas. Maria adalah Bunda Allah dan Bunda segenap umat-Nya. Bunda dari Yesus Kristus menampakan dirinya di seluruh penjuru dunia untuk mempersatukan banyak orang dan seluruh bangsa-bangsa. Sama seperti kepala suku Indian di Venezuela yang melontarkan tombaknya ke penampakan Bunda Maria atas dirinya berabad-abad lalu, dan gerilyawan ateis di Bosnia yang menembaki penampakan Bunda Maria, tidak ada manusia manapun yang bisa mencegah rencana Allah.

Bunda Yesus Kristus muncul sekarang di segala penjuru dunia melalui rahmat khusus dari Allah. Dia dikirim kepada generasi ini dengan hati keibuannya yang murni penuh kasih dan pengertian untuk mengangkat kembali anak-anak Allah kepada siapa Puteranya wafat.

Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami.....

Don't Ever To Stop To Do Good Things


Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu
membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya di
depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.

Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir,
karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?

Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu
memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata " saya kemari
untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil bukankah disana lebih hangat? oh ya nama saya Bryan.

Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak.

Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari st louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.

Wanita itu berkata berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.

Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita itu " Bila ia benar-benar ingin membalas jasanya, maka apabila suatu saat nanti apabila ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut "...dan ingatlah pada saya".

Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.

Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar.

Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan

Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu: "Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan:

"Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang".

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan
apa yang di tulis oleh wanita itu.

Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?

Ia tau bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut sambil berbisik :"semuanya akan baik-baik saja, I Love You Bryan"

Taruhlah tanganmu di dalam tanganku


Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk memegang dan menggenggam tangan kita. Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya.Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, "Putramu disini."

Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka sebentar, lalu menutup kembali, ibarat nyala lilin yang padam. Pemuda itu menaruh tangan pria tua itu kedalam tangannya sendiri, dan duduk disamping tempat tidurnya. Sepanjang malam ia duduk disana, menggenggam tangan orang tua itu dan membisikkan kata-kata penghibur.

Pagi-pagi sekali esok harinya, pasien itu ternyata meninggal. Dalam sekejab saja para staf rumah sakit berlarian memenuhi ruangan itu, mematikan mesin-mesin serta mencabut segala macam jarum2 suntik. Seorang perawat melangkah mendekati pemuda itu dan mulai menghiburnya, ikut berbagi duka cita, tapi ia menyelanya.

"Siapakah bapak itu?" tanyanya. Perawat yang terperangah dan kaget itu menjawab, "Lhooh, saya tadinya pikir ia ayahmu!" " Bukan.., oh.. ia bukan ayahku," jawabnya balik. "Seumur hidupku, ini pertama kali aku melihatnya."
"Lantas., lha anda kok diam saja waktu kutuntun kau kepadanya kemarin?"
"Saya sadar ia memerlukan dan mendambakan anaknya dan putranya tidak ada disini", orang itu menerangkan. "Dan karena aku tahu ia sebegitu parah sakitnya sehingga tak mengenali aku bukan anaknya, aku tahu ia memerlukan aku."

Ibu Teresa terbiasa mengingatkan kita kembali bahwa tak seorangpun layak dan harus mati sendirian. Makanya, tidak seorangpun pantas harus berduka cita maupun menangis sendiri juga. Ataupun tertawa sendiri, atau merayakan sendiri.

Kita diciptakan untuk mengarungi perjalanan hidup ini bergandengan tangan. Ada seseorang yang hari ini siap sedia untuk menggandeng dan menjabat tanganmu. Dan seseorang yang berharap kau akan menggenggam tangan-tangannya. Ingatlah untuk selalu saling bergantung dan saling bantu membantu satu sama lainnya!

Friday, March 19, 2010

Kisah penampakan Maria dan tilma Guadalupe, 1531


Pada dini hari tanggal 9 Desember 1531, sehari setelah pesta Maria Yang Dikandung Tanpa Noda, di suatu tanah luas disebelah utara kota Meksiko, seorang sedang berjalan sendirian menuju Misa pagi. Juan Diego adalah seorang pria berumur 57 tahun dari suku Aztec yang telah dibaptis, yang nama aslinya adalah Elang Bernyanyi.
Dia tinggal 8 kilometer diluar kota Meksiko, di kampung Tolpetlac. Juan tinggal sendirian, tetapi dia sangat dekat dengan pamannya yang sangat dikasihinya. Pamannya tersebut, Juan Bernardino, telah menjadi figur ayah baginya selama ini, dan dia telah tua renta. Sekarang giliran Juan Diego untuk menjaganya.
Setiap hari Juan Diego akan mengunjungi rumah pamannya untuk mengurusi pamannya dan menengok tanaman di kebun pamannya. Tetapi pada hari Sabtu yang dingin itu, Juan Bernardino tidak melihat keponakannya datang. Juan Diego telah meninggalkan desanya pagi-pagi sekali untuk menghadiri Misa pagi dalam memperingati Bunda Maria. Gerejanya terletak di desa Tlaltelolco dan para romo disana selalu menekankan pentingnya untuk datang ke Misa Kudus sebelum dimulai, dan memanggil satu-persatu nama-nama orang yang sudah dibaptis sebelum Misa Kudus dimulai.

Ketika berlari-lari melewati perbukitan seperti biasanya, Juan Diego menghentikan langkahnya tiba-tiba karena mendengar suara yang diduganya adalah suara burung. Ini sangat membuatnya terheran-heran karena pada bulan sekian, semestinya semua burung-burung sudah bermigrasi ke wilayah yang lebih hangat. Agaknya suara kicauan itu begitu tajam dan mengejutkan...sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Serentetan nada yang serasi datang dari bukit kecil yang tandus yang disebut Tepeyac dimana dulunya disana berdiri suatu kuil bagi Bunda Dewi yang dipuja oleh suku Aztec.

Sekonyong-konyong suara musik itu berhenti diisi dengan keheningan, lantas terdengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil namanya:

"Juan! Juan Diego! Juanito! Juan Dieguito!"

Siapapun orangnya, panggilan itu membuatnya sangat terdorong untuk menemui orangnya. Dia berlari ke puncak bukit dan baru setibanya dia disana dia melihat sesuatu. Seorang gadis Meksiko muda yang berusia sekitar 14 tahun dengan kilauan keemasan yang terpancar dari sekujur tubuhnya dari kepala sampai ke kaki. Segala pancaindera Juan Diego terliputi seolah dunia telah menghilang dan yang ada hanyalah penglihatan akan gadis muda yang sangat cantik dan suaranya. Gadis itu berbicara kepadanya dalam bahasa asli Aztec:

"Nopiltzin, campa tiauh?" Demikian gadis itu berkata "Juan, anakku yang paling kecil mungil, hendak kemana engkau pergi?"

Juan menjawab, "Bunda dan puteri, aku sedang bergegas ke Tlaltelolco untuk menghadiri Misa Kudus dan mendengarkan Injil."

Wanita itu lantas berkata: "Puteraku yang baik, aku mengasihimu. Aku ingin engkau tahu siapa aku. Aku adalah Maria Perawan Abadi, Bunda Allah yang sejati yang memberi hidup dan memeliharanya. Dia menciptakan segala hal. Dia ada di segala tempat. Dia adalah Tuhan dari langit dan bumi. Aku menginginkan sebuah teocali (=kuil atau gereja) di tempat ini dimana aku akan menunjukkan belahkasihku kepada kaummu dan kepada semua orang yang dengan tulus hati meminta pertolonganku dalam kerja dan kesulitan mereka. Disini, aku akan melihat air mata mereka. Aku akan menghibur mereka dan mereka akan merasakan kedamaian. Oleh karena itu sekarang pergilah ke Tenochtitlan (=Kota Meksiko) dan katakan kepada Bapa Uskup semua yang telah kamu lihat dan dengarkan."

Juan menjatuhkan diri berlutut keras-keras diatas batu cadas ketika sang Perawan mengatakan kepadanya siapa dirinya, akan tetapi meski demikian dia tidak merasakan sakit sedikitpun. Dia menyungkurkan dirinya di kaki Bunda Maria dan menjawab:

"Bunda yang mulia, aku akan melakukan apapun yang engkau titahkan kepadaku!" Maka berangkatlah dia. Sembari berlari-lari menuruni bukit, terpikirkan olehnya bahwa apa yang diminta oleh Bunda Maria bukanlah suatu perkara kecil. Pertama-tama jarak yang ditempuh sekitar 8 kilometer cukup melelahkan bagi seorang yang sudah berusia 57 tahun. Selain itu, terpikirkan juga apa yang mungkin akan dilakukan oleh para tentara dan tukang pukul Spanyol yang melihat dirinya orang miskin papa yang hina, yang berani datang ke kota besar. Ditambah lagi masalah mencari tempat tinggal sang Uskup, karena dia sama sekali tidak tahu dimana letaknya. Setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya Juan Diego berhasil menemukan tempat sang Uskup, dan setelah diperlakukan secara kasar oleh para pelayan, dia akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemui sang Uskup.

Uskup Don Fray Juan de Zumarraga sebetulnya baru terpilih dan belum dikonsekrasikan sebagai Uskup. Tetapi dia telah melakukan banyak hal terutama mengurangi perlakuan kasar para Konquistador (penakluk) Spanyol, terhadap orang-orang suku Indian, dan beliau sangat dihormati. Dia menemui Juan Diego setelah waktu yang cukup lama, karena dia sendiri baru diberi tahu tentang kedatangan Juan setelah tertunda waktu yang lama. Agaknya seseorang akhirnya memutuskan untuk memberi tahu sang Uskup mengenai orang dusun yang sedang menunggu-nunggu kehadirannya dengan sebuah pesan yang hanya boleh disampaikan kepada bapa Uskup pribadi. Dengan sopan bapa Uskup mendengarkan kisah yang dituturkan oleh Juan lewat seorang penterjemah, dan beliau terkesan oleh ketulusan dan kerendah-hatian Juan Diego. Dia menanyakan Juan sejumlah pertanyaan, dan puas akan kenyataan bahwa Juan adalah seorang yang telah mendapat katekis yang baik.Tetapi pesan yang dibawa oleh Juan menyangkut permintaan mendirikan sebuah bangunan gereja di tengah-tengah tanah tandus sulit untuk diterima akal sehat. Dia mengatakan kepada Juan bahwa dia akan memikirkannya dan bahwa mereka akan melanjutkan percakapan nantinya.

Hari sudah malam ketika Juan mencapai tanah tandus di bukit dimana dia melihat Bunda Maria menampakkan dirinya, dan dia sangat lelah dan lapar, karena telah berpuasa sejak matahari terbenam sehari sebelumnya. Bahkan mungkin dia juga sangat sedih karena misinya gagal. Setelah mendaki bukit itu, dia terkejut melihat Bunda Maria berada disana sedang menunggunya. Bunda Allah telah menunggunya selama ini sendirian di atas bukit tandus itu! Dia menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata:

"Bunda dan Ratu yang baik, aku melakukan titahmu. Aku memberitahukan kepada Bapa Uskup tentang segala hal yang telah kulihat dan kudengar disini. Dia mendengarkan, dan menanyakan banyak pertanyaan, tetapi aku yakin bahwa beliau tidak percaya segala hal yang kukatakan. Dia berpendapat bahwa aku telah salah sangka tentang keinginanmu untuk sebuah bangunan gereja disini, dan bahkan tentang siapa sebenarnya yang aku lihat dan bercakap-cakap disini. Dia berbaik hati memberi ijin kepadaku untuk menemuinya kembali, tetapi aku khawatir bahwa aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Aku tidak layak menerima kepercayaanmu dengan pesan yang penting itu. Mohon kirim orang lain yang lebih layak, karena aku bukan siapa-siapa. Maafkan keterus-teranganku dalam menasihatimu."

Sang Perawan Maria berkata: "Dengarkan putera mungilku. Ada banyak orang lain yang bisa aku kirim. Tetapi engkaulah yang aku pilih untuk menjalankan tugas ini. Maka esok pagi berangkatlah kembali menemui Bapa Uskup. Katakanlah kepadanya bahwa Perawan Maria-lah yang mengirim engkau, dan ulangi permintaanku untuk mendirikan sebuah gereja di tempat ini."

"Aku akan melakukannya dengan rela," Juan menjawab, "tetapi aku khawatir Bapa Uskup tidak akan senang melihat aku kembali secepat ini. Dan kalaupun dia senang, dia mungkin tetap saja tidak akan percaya bahwa engkaulah sungguh-sungguh yang mengutus aku. Tetapi aku adalah pelayanmu dan akan menuruti segala kehendakmu. Esok aku akan kembali ke sini untuk memberitahukan hasil kunjunganku yang kedua kalinya. Bunda yang mulia, beristirahatlah sampai nanti."

Pada pagi hari berikutnya Juan bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke Misa Kudus, dan setelah Misa selesai dia melanjutkan perjalanan ke kota Meksiko. Agaknya setelah dimarahi akibat sikap kasar mereka sehari sebelumnya, kali ini para pelayan membolehkan dia langsung menemui Uskup. Sang Uskup sangat terkejut melihat dia datang kembali begitu cepatnya, dan begitu pagi-pagi sekali, tetapi dia mendengarkan dengan sabar dan baik hati, cerita itu untuk kedua kalinya, dan betapa besar keinginan sang Perawan agar sebuah gereja didirikan di atas bukit. Agaknya surga telah memenuhi pikiran sang Uskup, sehingga dia mulai percaya bahwa Juan tidak salah paham ataupun membuat-buat cerita ini. Dia membutuhkan suatu bukti. Tetapi bukti apa?

Dengan agak ragu-ragu, karena tidak ingin menimbulkan kesan bahwa dia mempertanyakan motivasi Bunda Surgawi, dia meminta Juan untuk menyampaikan kepadanya bahwa dia dengan rendah hati meminta suatu tanda yang akan menjadi bukti bahwa sungguh-sungguh Bunda Maria sendirilah yang membuat permohonan ini. Juan merasa lega hatinya karena setidaknya kali ini dia mendapat suatu kemajuan karena dia tidak segera dikirim pulang kali ini, dan dia melanjutkan kembali ke bukit seperti yang telah dia janjikan sebelumnya.

Setibanya disana, sekali lagi karena melihat sang Perawan telah berada disana menunggunya, dia segera berlutut dan mengatakan kepadanya bahwa bapa Uskup telah menemuinya dan mendengarkan dengan lembut, tetapi bahwa dia meminta sebuah tanda sebelum gereja bisa dibangun. Dengan kesabaran seorang ibu, Maria mendengarkan, dan bukannya merasa tidak senang, malah beliau agaknya senang. Dia berkata:

"Baiklah, putera kecilnya. Kembalilah besok saat menjelang fajar. Aku akan memberimu suatu tanda baginya. Engkau telah mendapat banyak kesulitan karena permintaanku, dan aku akan memberimu upah oleh karenanya. Pergilah dalam damai dan beristirahatlah."


Bukannya pulang ke rumah, Juan langsung pergi menemui pamannya. Dia terkejut setibanya disana, karena mendapatkan pamannya telah terinfeksi penyakit demam yang menular dan mematikan yang telah sering dilihat oleh Juan. Dia tidak beristirahat, malahan melakukan segala hal yang bisa dilakukannya untuk mengurusi paman yang sedang menderita sakit keras. Sepanjang malam itu, siang hari berikutnya, dan malam hari berikutnya, Juan menunggui sang paman disamping ranjangnya. Pada hari Selasa pagi, kondisi Juan Bernardino membruk, dan dia tahu bahwa dia mungkin tidak dapat bertahan bahkan sehari lagi. Dia meminta keponakannya untuk memanggil seorang imam supaya dia dapat menerima Sakramen Pengurapan orang sakit. Juan Diego akhirnya mengalah, dan meskipun dia sesungguhnya tidak ingin meninggalkan pamannya sendirian meregang maut, dia menyadari bahwa mungkin ini satu-satunya hal yang bisa dilakukan bagi pamannya.


Untuk memanggil seorang imam, Juan harus pergi ke Tlaltelcolco. Untuk pergi ke Tlaltelcolco, dia harus pergi memutari wilayah bukit Tepeyac. Karena dia telah melihat Bunda Maria di sisi barat, maka kali ini dia akan pergi melintasi sisi timur dengan harapan supaya Bunda Maria tidak melihatnya dan lantas membuatnya tertunda, karena setiap saat adalah waktu yang berharga demi mendapatkan Sakramen Pengurapan bagi pamannya. Begitu besar rasa kasihnya kepada sang paman, sehingga dia lebih rela menunda bertemu dengan Bunda Maria demi untuk mengurusi keperluan pamannya! Tetapi dia baru saja akan melintasi sisi timur ketika dia melihat Bunda Maria menuruni bukit.


Sewaktu berjalan menemui Bunda, pasti rasa malunya luar biasa besarnya. Untuk menyembunyikan perasaannya, seperti seorang anak kecil, Juan Diego mencoba untuk merubah topik pembicaraan. Dengan Juan berlutut dihadapannya, Bunda Maria bertanya, "Puteraku yang mungil, ada masalah apa?" Juan ,emkawab dengan sembarangan, "Bunda! Mengapa engkau bangun begitu pagi-pagi sekali? Apakah engkau baik-baik saja?" Menyadari kebodohannya, segera dia meminta maaf, "Maafkan aku. Pamanku menjelang ajal karena demam cocolistle dan memintaku untuk memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepadanya. Bukan janji kosong belaka yang kuucapkan bahwa aku akan menemuimu kemarin pagi dan membawa tanda yang akan engkau berikan kepada bapa Uskup. Tetapi pamanku sakit keras."

Dengan tersenyum, Maria menjawab, "Puteraku yang mungil. Jangan khawatir dan terbeban. Bukankah aku ini adalah ibumu? Tidakkah engkau berada dalam perlindunganku? Pamanmu tidak akan meninggal saat ini. Pada saat ini juga kesehatannya telah pulih. Tidak ada gunanya engkau melanjutkan perjalananmu, dan dengan hati damai engkau bisa melakukan permintaanku. Pergilah ke puncak bukit; potonglah bunga-bunga yang tumbuh disana dan bawalah kepadaku."

Bunga-bunga? Tidak mungkin ada bunga-bunga yang tumbuh pada saat ini di akhir tahun di bukit yang dingin beku itu! Akan tetapi tidak mungkin juga kesehatan pamannya bisa pulih dalam sekejap. Oleh karena itu Juan Diego tidak lagi bertanya-tanya dan langsung naik ke puncak bukit menuruti petunjuk Bunda Maria. Di atas puncak bukit dilihatnya suatu pemandangan yang tidak dapat dipercaya. Bunga-bunga mawar!!! Bunga Mawar Kastilian (dari Spanyol) ! Dia memotong tangkai bunga-bunga tersebut, lantas untuk melindungi dari angin dingin, dia meletakkannya di dalam tilma yang dipakainya. Tilma adalah semacam jubah khas Indian yang dipakai di bagian depan dan seringkali digunakan untuk membawa benda-benda. Dengan berlari-lari dia menuruni bukit dan menemui sang Perawan dan berlutut didepan Bunda Surgawi.

Maria tidak puas dengan cara bunga-bunga tersebut diletakkan di dalam tilma dan dengan cermat dia mengatur setiap tangkai bunga dengan kedua tangannya, dan kemudian menyimpulkan kedua ujung tilma supaya isinya tidak tertumpah.

Lalu dia berkata, "Engkau lihat, putera kecil, ini adalah tanda yang aku kirim kepada Uskup. Katakan kepadanya bahwa sekarang dia mendapatkan tanda yang dimintanya, maka dia harus membangun gereja yang kuminta di atas tempat ini. Jangan biarkan orang lain kecuali dirinya melihat apa yang engkau bawa. Peganglah kedua sisinya sampai engkau tiba di hadapannya dan selesai menceritakan tentang bagaimana aku mencegat engkau dalam perjalananmu untuk memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepada pamanmu, dan betapa aku meyakinkanmu bahwa dia telah pulih sepenuhnya dan selanjutnya mengirimmu ke atas bukit untuk memotong bunga-bunga mawar ini, dan aku sendiri yang mengaturnya seperti ini. Ingatlah, puteraku yang mungil, bahwa engkau adalah dutaku yang kupercaya, dan kali ini bapa Uskup akan percaya apa yang engkau ceritakan kepadanya."

Saat itu adalah untuk terakhir kalinya Juan Diego melihat atau mendengar Bunda Maria sepanjang sisa hidupnya di dunia.

Dengan memegang erat-erat bawaannya yang berharga, Juan tiba di tempat tinggal bapa Uskup. Meskipun dia berusaha menyembunyikan apa yang dibawanya di balik tilmanya, akan tetapi wangi mawar surgawi yang menyengat memenuhi udara disekitarnya. Para pelayan membolehkan dia masuk, tetapi mereka menjadi sangat ingin tahu akan apa yang dia bawa, tertama setelah mencium wangi harum bunga mawar. Merekapun mulai mendesak-desak Juan untuk memberitahukan apa yang ada di balik tilmanya, dan beberapa bunga menjadi tampak kelihatan. Ketika para pelayan menyentuh mawar-mawar tersebut, mereka berubah rupa dan lenyap. Keributan yang ditimbulkannya membuat sang bapa Uskup datang bergegas untuk melihat apa yang terjadi.

Melihat Juan untuk kesekian kalinya dan kembali begitu cepatnya tentu membuat sang Uskup menjadi lelah berurusan dengan orang dusun yang sederhana ini, dan dia segera menyuruh Juan Diego untuk masuk ke ruangannya, bersama-sama beberapa pengurus rumah tangga sang Uskup. Berdiri di hadapan Uskup, dia tidak berani berlutut karena khawatir bunga-bunganya akan tertumpah keluar sebelum dia selesai menceritakan kisahnya seperti yang telah diperintahkan oleh Bunda Maria. Juan kembali menceritakan apa yang telah dilihatnya dan didengarnya. Setelah dia selesai, Juan membuka simpul-simpul pada tilmanya dan menumpahkan bunga-bunga yang telah diatur secara hati-hati tersebut ke atas lantai. Hanya dalam waktu beberapa detik, bapa Uskup bangkit dari kursinya dan berlutut di depan kaki Juan Diego. Juan berpikir, "Apa-apaan ini?" Tetapi bukan dia yang membuat bapa Uskup dan orang-orang itu berlutut, tetapi bahwa Bunda Maria telah menyatakan rupanya dalam gambar yang muncul pada tilma yang dikenakan oleh Juan Diego. Gambar yang muncul secara mukjijat pada tilma Juan Diego adalah rupa Maria yang sama persis ketika dia menampakan dirinya kepada Juan Diego. Sekarang rupa penampakannya yang mulia bisa dilihat oleh semua orang!

Dengan penuh hormat, bapa Uskup membawa gambar tersebut ke kapel pribadinya dan menggantung tilma tersebut di dinding di dekat altar dimana banyak orang berdoa dan takjub selama berjam-jam. Pada hari berikutnya gambar Bunda Maria tersebut dibawa dalam suatu prosesi yang gegap gempita ke katedral dimana banyak orang datang melihat dan berdoa di hadapannya. Berita tersebut tersebar dengan cepat dan beribu-ribu orang menunggu berjam-jam untuk mendapat kesempatan melihat secara sekilas mukjijat ini. Sementara seisi kota merayakan hal itu, sang bapa Uskup, yang sekarang sudah sepenuhnya percaya, menanyakan Juan Diego dimana Bunda Maria meminta suatu gereja dibangun dan beliaupun berangkat kesana. Meskipun tempat tersebut sama sekali tidak indah, dan tidak lagi ditemui mawar yang sebelumnya tumbuh disana, segala hal ini tidak menjadi soal sekarang. Semua keragu-raguan sudah lenyap. Bapa Uskup menyuruh Juan Diego untuk menemui pamannya dan dia sendiri lantas memberkati tanah di sana dan segera bergegas untuk membangun suatu gereja disana.

Sekembalinya Juan ke kampungnya, dia melihat pamannya sedang menikmati sinar matahari di depan rumahnya, sehat seperti sediakala, dan berlari-lari untuk menyongsongnya, ingin segera menceritakan apa yang terjadi padanya. Akan tetapi pamannya lebih dahulu bercerita bahwa ketika itu dia sangat lemah sehingga untuk minumpun tidak mampu dan dia merasa kematian sudah diambang pintu. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi oleh seberkas cahaya, dan seorang gadis muda yang sangat cantik muncul dan mengatakan bahwa dia akan sembuh, dan bahwa dia telah mencegat keponakannya, Juan Diego, untuk mengutusnya mengirimkan gambar dirinya kepada bapa Uskup. Dia lantas mengatakan kepada Juan Bernardino bahwa dia berkeinginan supaya dirinya maupun gambar dirinya disebut dengan sebutan "Santa Maria de Guadalupe." Setelah dia pergi, sang paman merasakan bahwa dirinya sehat sediakala.

Guadalupe! Betapa Allah mengenal umat-Nya! Pertama, kata ini memiliki makna yang mendalam bagi orang-orang Spanyol. Guadalupe adalah nama yang diberikan bagi sebuah patung kecil Santa Maria di kota Saracenic, Spanyol, dan adalah patung dimana Columbus pernah berdoa dihadapannya, di dalam kapalnya yang bernama Santa Maria, sebelum ia berangkat dalam perjalanannya yang legendaris. Bagi orang Aztec, kata-kata ini juga punya makna yang mendalam. Meskipun bahasa asli Aztec, Nahuatl, tidak memiliki huruf "G", "D", atau "R", "Santa Malia" - demikian mereka mengucapkan kata "Maria", sangat mereka kenal. Bernardino kemungkinan besar mengulang kata-kata Bunda Maria sebagai "de Quatlashupe" yang dengan mudah dimengerti oleh orang-orang Spanyol sebagai Guadalupe. Akan tetapi bagi Bernardino sendiri sebagai seorang suku Aztec, kata yang diucapkan oleh Bunda Maria lebih terdengar sebagai "tetcoatlaxopeuh", yang punya makna khusus karena artinya tidak lain adalah Ular Batu. Maria menyatakan bahwa dirinya telah mengalahkan dewa jahat, seekor ular, "Quetzalcoatl", yaitu dewa yang disembah oleh orang-orang Aztec. Banyak orang telah dipersembahkan nyawanya sebagai kurban bagi dewa ini. Tidak hanya namanya, bahkan dalam gambar Bunda Maria tersebut, awan, matahari, bintang-bintang, bulan hitam, salib hitam, semuanya ini memiliki makna khusus bagi orang-orang Aztec. Tetapi mereka menyambut iman Katolik dengan sepenuh hati dan percaya bahwa Bunda Maria telah menaklukkan sang ular. Meski Gereja Katolik baru saja kehilangan sekitar 6 juta pengikutnya di Eropa karena pecahnya reformasi Prostestan, tetapi di Amerika sekitar 8 juta orang menerima iman Katolik oleh satu saja penampakan Maria, yaitu Guadalupe.

Gambar Bunda Maria dari Guadalupe yang muncul secara mukjijat tersebut telah menjadi sasaran berbagai penelitian ilmiah. Pertama-tama patut diketahui bahwa tilma itu terbuat dari serat kasar kaktus yang tidak tahan lama dan semestinya sudah hancur dalam kurun waktu sekitar 20 tahunan. Akan tetapi tilma yang bergambar Bunda Maria tersebut umurnya sudah nyaris 500 tahun dan kondisinya masih utuh. Meskipun sekarang dipamerkan dibalik kaca, akan tetapi sepanjang ratusan tahun tilma tersebut dipamerkan secara terbuka, bahkan ada saat-saat dimana tilma itu dipamerkan di dekat jendela. Tidak seorangpun bisa menjelaskan bagaimana gambar yang begitu mendetail bisa "dilukis" pada sehelai kain yang anyamannya kasar. Bagian mata, khususnya pada pupil mata dan warnanya, sangat mendetail sehingga seolah-olah merupakan sebuah foto. Tidak seorang ahlipun bisa menyebutkan zat warna/cat apa yang dipakai untuk membuat gambar tersebut. Bahan yang dipakai tidak diketahui asal-usulnya dan hasil analisa kimia juga membingungkan para ahli.

Belum lama ini, riset fotografi NASA (badan luar angkasa Amerika Serikat) menyatakan bahwa pada bagian mata, tidak hanya warna dan pupil yang tampak nyata, tetapi bahkan pantulan refleksi. Pada pantulan refleksi itu bisa dilihat gambar orang-orang yang sedang berlutut, sebagian tampak adalah orang-orang suku Indian, sementara sebagian lainnya berjubah imam. Lebih jauh lagi pantulan refleksi ini muncul dengan cara sedemikian rupa sehingga cocok sepenuhnya seperti layaknya pantulan yang ada pada mata manusia sungguhan. Riset juga menunjukkan eksistensi saluran dan pembuluh kapiler darah pada mata. Ini adalah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh artis seniman manapun juga. Tidak mungkin orang bisa melukis sedetail ini, pada bahan yang sekasar itu, dan dengan warna-warni yang tak seorangpun tahu terbuat dari bahan apa. Kalau hal-hal diatas belum cukup mengejutkan, para ahli astronomi Perancis telah menyatakan bahwa letak bintang-bintang pada mantel Bunda Maria yang berwarna hijau, cocok sepenuhnya dengan letak konstelasi bintang-bintang di atas langit Meksiko pada bulan Desember 1531!!!

Diatas semua itu, mukjijat yang terbesar dari penampakannya bukanlah penguatan dari ilmu pengetahuan. Mukjijat yang terbesar adalah bahwa Maria begitu mengasihi Puteranya, dan para anak-anak spiritualnya di dunia, sehingga dia memilih seorang Indian yang sederhana untuk mewartakan kabar keselamatan kepada satu benua, dan dengan demikian, membawa berjuta-juta rakyat asli benua Amerika ke dalam iman Katolik. Kalaupun suatu waktu tilma Bunda Maria dari Guadalupe lapuk dimakan jaman, mukjijat pertobatan jutaan penduduk asli Amerika yang masuk Katolik akan selalu bersama-sama dengan kita, sampai ke akhir jaman.


Pada tanggal 12 Desember, Gereja merayakan pesta Santa Maria dari Guadalupe. Meskipun pesta ini bukan pesta yang dirayakan secara universal seperti layaknya pesta Maria Yang Dikandung Tanpa Noda setiap tanggal 8 Desember, tetapi di berbagai negara pesta Our Lady of Guadalupe adalah suatu pesta yang dirayakan secara besar-besaran. Gereja juga mengangkat Santa Maria dari Guadalupe sebagai: Santa pelindung seluruh Amerika, Santa pelindung janin-janin dalam kandungan dan sebagai Santa pelindung Filipina. Santa Maria dari Guadalupe, doakanlah kami...

MEMOHONLAH DAN KAMU AKAN DIBERKAHI


Hiduplah seorang ibu dengan anak laki-lakinya di sebuah desa yang terpencil. Anak tersebut telah kehilangan ayahnya ketika dia masih kecil. Sang ibu berusaha keras dan dengan sekuat tenaga dalam berbagai jalan guna mendapatkan uang untuk mendidik, merawat dan juga untuk menyokolahkan anaknya. Anak laki –laki itu cukup pintar dan mampu meraih peringkat ke tujuh di dalam kelas. Pada suatu hari anak ini mengatakan kepada ibunya,” Ma, saya harus membayar uang ujian di sekolah sebanyak 20 rupees. Ibu yang tidak berdaya itu menangis setelah mendengar permintaan anaknya dan sambil menjawab,” bagaimana ibu mampu mendapatkan uang sebanyak itu anakku, dan juga jika ibu meminjam maka tidak akan ada yang akan memberikan pinjaman kepada kita. Namun hanya Tuhan yang seharusnya menolong kita. Beliau sendiri yang akan datang untuk menyelamatkan orang –orang yang tidak berdaya seperti kita. Anak itu bertanya kepada ibunya dengan lugu,” Ma! Ma! Katakan padaku nama Tuhan itu dan dimana Beliau tinggal?”. Ibunya menjawab,” Oh anakku, Beliau adalah Tuhan penguasa Vaikunta ----Narayana.
Anak itu tanpa menunggu lagi lari menuju ke kantor pos dan menulis surat yang ditujukan kepada Tuhan Narayana, memohon kepada-Nya agar mengirimkan uang yang dia butuhkan segera. Kepala kantor pos karena rasa ingin tahunya mendekati anak tersebut, yang kemudian menulis alamat “Sri Narayana penguasa Vaikunta”. Kepala kantor pos menanyakannya: anakku! Siapa yang telah memberikan alamat ini dan apa yang telah kamu tulis?”. Anak laki –laki itu menceritakan semuanya dan juga tentang nasehat ibunya bahwa Tuhan Narayana akan pasti datang untuk membantu orang yang tidak berdaya. Kepala kantor pos merasa sangat tersentuh dengan keluguan serta keyakinan pada perkataan ibunya. Dia mengambil surat itu dan berkata: “anakku tersayang! Bapak akan mengirimkan surat ini dengan menggunakan pos kilat dan kamu boleh datang lusa untuk mengambil uangnya. Ketika waktunya telah tiba, anak itu bergegas pergi ke kantor pos penuh dengan rasa antusias. Kepala kantor pos itu memberikannya uang itu. Anak itu mengucapkan rasa terima kasih dan kembali pulang dan memberitahukan tentang uang itu. Namun, ibunya tidak dapat percaya akan keberadaan uang itu. Dia mengira bahwa anaknya pasti telah mencuri atau meminjam atau meminta- minta uang itu. Jadi dia memukul anaknya. Anak itu meminta kepada ibunya untuk menanyakan apa yang terjadi kepada kepala kantor pos. Ibunya bergegas pergi ke kantor pos dan bertanya kepada kepala kantor pos, “tolong katakan kepada saya darimana anak saya mendapatkan uang sebanyak itu”? Kepala kantor pos itu kemudian menjawab,”Oh! Ibu! Ketika saya melihat surat yang ditulis anak ibu, saya sangat tersentuh sampai saya hampir menangis, atas surat yang ditulis kepada Tuhan yang penuh dengan keyakinan! Kata hati saya mengingatkan saya untuk menolongnya. Jika tidak, saya tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melihat surat anakmu. Surat itu telah terjawab dan keyakinan putra anda pada diri anda dan kepada Tuhan telah tertanam dengan baik. Saya berkeyakinan ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk menolong anak yang baik ini”.
Jika kita berdoa dengan tulus, Tuhan pasti akan menolong kita dengan menyuruh seseorang bertindak sebagai duta-Nya. Apa yang diperlukan adalah keyakinan yang kuat kepada Tuhan.
“Ketuklah! Pintunya akan terbuka”
“Memohonlah! Kamu akan di berkahi”
Tuhan selalu siap menjawab doa yang sungguh - sungguh

God Never Leave Us


Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk
mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.Jika seorang anak
laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak
laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan
sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling
dalam.Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan
dibuka,dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia
akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku
tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.
Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak
tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut
mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala,bunyi
dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia
tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus
dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia
tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur
deras dari tubuhnya.
Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat
sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui
bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi
siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai
anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya,
maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu
mendekati anaknya. sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan "begitu kejam"
melepaskan anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak
dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti Ia setia, Ia
mengasihi kita, dan Ia selalu berjaga-jaga bagi kita

God is too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind
So,
When you don't understand Him And
When you can't see His plan And
When you can't trace His hand
JUST TRUST HIS HEART.

[a] Paraf Yunani yang artinya Bunda Allah

[b] Bintang dicadar Bunda Maria, beliaulah bintang lautan yang membawa cahaya Kristus kepada kegelapan dunia ini, bintang yang membimbing kita dengan aman menuju rumah surgawi
[c] Paraf Yunani untuk Malaikat Agung Mikael. Ia dilukiskan sedang memegang lembing dan bunga karang alat sengsara Kristus.






[d] Mulut Maria digambar mungil sebagai lambang sedikit berbicara dan dalamnya kehidupan kontemplasi Sang Perawan.

[e] Jubah merah, warna yang dikenakan para perawan jaman Kristus

[f] Mantel biru tua, warna yang dikenakan ibu-ibu Palestina. Maria adalah perawan dan ibu.

[g] Tangan-tangan Kristus menggenggam erat ibu jari bunda-Nya, menyatakan kepada kita kepercayaan yang harus kita berikan di dalam doa-doa kepada Bunda Maria.

[h] Mahkota emas dilukis dalam gambar aslinya, merupakan tanda dari banyaknya doa yang terkabul yang ditujukan kepada Bunda Maria yang disebut sebagai "Bunda Penolong Abadi"

[i] Paraf Yunani untuk "Malaikat Agung Gabriel". Ia memegang salib dan paku-paku

[j] Mata Bunda Maria digambar besar, mata itu melihat tembus pada kebutuhan-kebutuhan kita dan mengundang permohonan-permohonan.

[k] Paraf Yunani untuk Yesus Kristus

[l] tangan kiri Bunda Maria menopong Kristus dengan eratnya, menyatakan kita kepada jaminan yang kita peroleh dalam pengabdian terhadap Bunda Allah.

[m] Sandal yang terjatuh, suatu tanda bagi mereka yang merenungkan sengsara Kristus akan memperoleh penyelamatan dan memasuki jenjang pewaris-Nya yang abadi (Rut 4:7-8)